Senin, Agustus 22, 2016

KOMPOSISI DASAR DAN SUDUT PENGAMBILAN GAMBAR



Assalamualaikum Wr.Wb. . .. 

Pada postingan kali ini saya akan menjelaskan komposisi dasar dan sudut pengambilan gambar 




Dalam dunia fotografi tidak sedikit fotografer apalagi yang masih pemula, seolah terlena pada hal-hal yang bersifat teknis saja, seperti mengatur bukaan diafragma, pengaturan kecepatan, dan pengaturan jarak. Mungkin juga, selama ini tidak terpikirkan bahwa di dalam foto itu terkandung nilai-nilai tertentu yang dapat membuat foto itu bagus atau sebaliknya menjadi berantakan. Salah satunya adalah pengaturan komposisi. Mungkin belum pernah membayangkan, bahwa dengan pengaturan komposisi sesungguhnya dapat ditonjolkan subjek utama. Bahkan tidak jarang akan mendukung keberhasilan foto-foto yang kita buat.

Definisi Komposisi
Komposisi secara sederhana diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam gambar, elemen-elemen ini mencakup garis, bentuk, warna, terang dan gelap. Yang paling utama dari aspek komposisi adalah menghasilkan visual impact (sebuah kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang anda inginkan untuk berekspresi dalam foto). Dengan komposisi, foto akan tampak lebih menarik dan enak dipandang  dengan pengaturan letak dan perbandaingan objek-objek yang mendukung dalam suatu foto. Dengan demikian perlu menata sedemikian rupa agar tujuan dapat tercapai, apakah itu untuk menyampaikan kesan statis dan diam atau sesuatu mengejutkan. Dalam komposisi selalu ada satu titik perhatian yang pertama menarik perhatian.

Tujuan Mengatur Komposisi Dalam Fotografi
1.    Dengan mengatur komposisi foto, kita juga dapat membangun “mood” suatu foto dan keseimbangan keseluruhan objek foto.
2.    Menyusun perwujudan ide menjadi sebuah penyusunan gambar yang baik sehingga terwujud sebuah kesatuan (unity) dalam karya.
3.    Melatih kepekaan mata untuk menangkap berbagai unsur dan mengasah rasa estetik dalam pribadi pemotret.

Jenis-Jenis Komposisi :
  1. Garis
Komposisi ini terbentuk dari pengemasan garis secara dinamis baik garis lurus, melingkar / melengkung. Biasanya komposisi ini bisa menimbulkan kesan kedalaman dan kesan gerak pada sebuah objek foto. Ketika garis-garis itu digunakan sebagai subjek, yang terjadi adalah foto menjadi menarik perhatian. Tidak penting apakah garis itu lurus, melingkar atau melengkung, membawa mata keluar dari gambar. Yang penting garis-garis itu menjadi dinamis.
  1. Bentuk
Komposisi ini biasanya dipakai fotografer untuk memberikan penekanan secara visual kualitas abstrak terhadap sebuah objek foto. Biasanya bentuk yang paling sering dijadikan sebagai komposisi adalah kotak dan lingkaran.
  1. Warna
Warna memberikan sebuah kesan yang elegan dan dinamis pada sebuah foto apabila dikomposisikan dengan baik. Kadang kala komposisi warna dapat pula memberikan kesan anggun serta mampu dengan sempurna memunculkan “mood color” (keserasian warna) sebuah foto terutama pada foto – foto “pictorial” (Foto yang menonjolkan unsur keindahan)
  1. Gelap dan Terang
Komposisi ini sebenarnya dipakai oleh fotografer pada era fotografi analog masih berkembang pesat terutama pada pemotretan hitam putih. Namun, sekarang ini, ditengah – tengah era digital komposisi ini mulai diterapkan kembali. Kini pengkomposisian gelap dan terang digunakan sebagai penekanan visualitas sebuah objek. Kita dapat menggunakan komposisi ini dengan baik apabila kita mampu memperhatikan kontras sebuah objek dan harus memperhatikan lingkungan sekitar objek yang dirasa mengganggu yang sekiranya menjadikan permainan gelap terang sebuah foto akan hilang.
  1. Tekstur
Yaitu tatanan yang memberikan ksan tentang keadaan prmukaan suatu benda (halus, kasar, beraturan, tidak beraturan, tajam, lembut,dsb). Tekstur akan tampak dari gelap terang atau bayangan dan kontras yang timbul dari pencahayaan pada saat pemotretan.

Penerapan Komposisi Dalam Pemotretan
Dalam pengemasan sebuah foto agar terkesan dinamis dan menimbulkan keserasian perlu sebuah pemahaman tentang kaidah – kaidah tentang komposisi. Yang antara lain:

Ø   Rule of Thirds  (Sepertiga Bagian / Rumus Pertigaan)
Pada aturan umum fotografi, bidang foto sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian yang sama. Sepertiga bagian adalah teknik dimana kita menempatkan objek pada sepertiga bagian bidang foto. Hal ini sangat berbeda dengan yang umum dilakukan dimana kita selalu menempatkan objek di tengah-tengah bidang foto

Ø   Sudut Pemotretan (Angle of View)
Salah satu unsur yang membangun sebuah komposisi foto adalah sudut pengambilan objek. Sudut pengambilan objek ini sangat ditentukan oleh tujuan pemotretan. Maka dari itu jika kita mendapatkan satu moment dan ingin mendapatkan hasil yang terbaik,
jangan pernah takut untuk memotret dari berbagai sudut pandang. Mulailah dari yang standar (sejajar dengan objek), kemudian cobalah dengan berbagai sudut pandang dari atas, bawah, samping sampai kepada sudut yang ekstrim.

Ø   Format : Horizontal dan vertikal
Proposi pesrsegi panjang pada view vender pada kamera memungkinkan kita untuk memotret dengan menggunakan format landscape(horisontal) maupun portrait (vertikal). Format pengambilan gambar dapat menimbulkan efek berbeda pada komposisi akhir.

Ø   Dimensi
Meskipun foto bercerita dua dimensi, yang artinya semua terekam diatas satu bidang. Namun, sebenarnya foto dapat dibuat terkesan memiliki kedalaman, seolah-olah dimensi ketiga. Unsur utama membentuk dimensi adalah jarak, Dimensi dapat terbentuk apabila adanya jarak, jika kita menampilkan suatu obyek dalam suatu dimensi maka akan terbentuk jarak dalam setiap elemennya. Untuk membuat suatu dimensi diperlukan adanya permainan ruang tajam, permainan gelap terang dan garis.

Sudut Pengambilan Gambar ( Camera Angle )
Dalam fotografi agar foto yang kita hasilkan memiliki nilai dan terkesan indah harus diperhatikan mengenai masalah penggunaan sudut pengambilan gambar yang baik. Dalam fotografi dikenal 3 sudut pengambilan gambar yang mendasar, yaitu:

§   Bird Eye
Sudut pengambilan gambar ini, posisi objek dibawah / lebih rendah dari kita berdiri. Biasanya sudut pengmbilan gambar ini digunakan untuk menunjukkan apa yang sedang dilakukan objek (HI), elemen apa saja yang ada disekitar objek, dan pemberian kesan perbandingan antara overview (keseluruhan) lingkungan dengan POI (Point Of Interest).

§   High Angle
Pandangan tinggi. artinya, pemotret berada pada posisi yang lebih tinggi dari objek foto.

§   Eye Level
Sudut pengembilan gambar yang dimana objek dan kamera sejajar /  sama seperti mata memandang. Biasanya digunakan untuk menghasilkan kesan menyeluruh dan merata terhadap background sebuah objek, menonjolkan sisi ekspresif dari sebuah objek (HI), dan biasanya sudut pemotretan ini juga dimaksudkan untuk memposisikan kamera sejajar dengan mata objek yang lebih rendah dari pada kita missal, anak – anak.

§   Low Angle
Pemotretan dilakukan dari bawah. Sudut pemotretan yang dimana objek lebih tinggi dari posisi kamera. Sudut pengembilan gambar ini digunakan untuk memotret arsitektur sebuah bagunan agar terkesan kokoh, megah dan menjulang. Namu, tidak menutup kemungkinan dapat pula digunakan untuk pemotretan model agar terkesan elegan dan anggun.

§   Frog Eye
Sudut penglihatan sebatas mata katak. Pada posisi ini kamera berada di dasar bawah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak dihadapkan ke atas. Biasanya memotret seperti ini dilakukan dalam peperangan dan untuk memotret flora dan fauna.

Field Of View
Beberapa jenis komposisi yang umum digunakan dari segi ukuran (field of view) yang akan diambil adalah sebagai berikut :

a. Extreme Close Up
Pengambilan gambar yang sangat dekat sekali dengan objek, sehingga detil objek seperti pori-pori kulit akan jelas terlihat.

b. Head Shot
Pengambilan gambar sebatas kepala hingga dagu.

c. Close Up
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga bahu.

d. Medium Close Up
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga dada.

e. Mid Shot (setengah badan)
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga pinggang.

f. Medium Shot (Tiga perempat badan)
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga lutut.

g. Full Shot (Seluruh Badan)
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga kaki.

h. Long Shot
Pengambilan gambar dengan memberikan porsi background atau foreground lebih banyak sehinnga objek terlihat kecil atau jauh.


Beberapa jenis komposisi dari segi banyaknya manusia sebagai objek yang difoto adalah sebagai berikut :
 
a. One Shot
Pengambilan gambar untuk satu orang sebagai objek.

b. Two Shot
Pengambilan gambar untuk dua orang sebagai objek.

c. Three Shot
Pengambilan gambar untuk tiga orang sebagai objek.

d. Group Shot
Pengambilan gambar untuk sekelompok orang sebagai objek.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan gambar, diantaranya 

Headroom, merupakan ruang diatas kepala yang berfungsi membatasi bingkai dan bagian atas kepala objek.

Noseroom, arah pandang atau ruang gerak objek dalam sebuah frame, bertujuan untuk memberikan ruang pandang sehingga terkesan bahwa objek memang sedang melihat sesuatu.

Foreground, segala sesuatu yang menjadi latar depan dari objek.

Background, segala sesuatu yang menjadi latar belakang objek.

TIPS HUNTING
  1. Persiapan Awal
1.    Siapkan kamera dan peralatan lain yang di butuhkan (seperti flash, tripot, filter, dll)
2.    Sebelum memulai hunting rencanankan konsep dan obyek apa yang akan diambil.

  1. Pada Saat Hunting
1.    Ambil semua obyek yang memang ada dilokasi dan pikirkan pula apa yang akan di ceritakan pada foto yang akan diambil.
2.    Untuk pemula, mulailah hunting dengan obyek yang beragam dan dasar, seperti landscape, human interest, portrait, arsitektur,dll. Kemudian menuju jenis-jenis foto yang lebih mengarah ke jurnalistik seperti features, spot, essay dan stories.
  1. Pasca Hunting
1.    Setelah hasil hunting jadi, lakukan evaluasi untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dari hunting kita.
2.    Yang terpenting, lakukan presentasi foto dan pameran untuk menunjukkan hasilhunting kita ke banyak orang.

Sekian postingan saya. Wassalam. . . .

Efek api ditangan (2) (Efek Khusus)



Assalamualaikum Wr.Wb. . .. 




Pada pelajaran Menerapkan efek khusus pada objek produksi, saya diberi tugas yaitu membuat efek api ditangan lalu menyebarkan efek itu didalam kelas. Kami mengambil gambar di dalam kelas karena guru saya ingin jika apinya disebarkan maka kepala siswa yang berada di kelas juga ikut terbakar. 

Kami melakukan beberapa kali pengambilang gambar karena banyak yang tidak bias menahan tertawa mereka hingga akhirnya pengambilan gambr selesai, selanjutnya di edit, pada proses edit berlangsung, tiba-tiba ketua jurusan saya masuk kedalam kelas untuk menyampaikan sesuatu. Setelah itu kami kembali melanjutkan proses editing hingga akhirnya bel istirahat berbunyi.

Sekian postingan saya. Wassalam. . . .

Sabtu, Agustus 20, 2016

Melakukan Dubbing Suara Sendiri



Assalamualaikum Wr.Wb. . .. 

Kali ini saya akan memnberikan sedikit tips untuk melakukan dubbing suara secara amatiran. Peralatan yang anda butuhkan bisa hanyalah PC dengan software audio editing beserta microphone.

Sebelum memasuki tutorialnya, saya jelaskan sedikit mengenai istilah dubbing. Dubbing merupakan proses mengisi atau memperbarui suara dalam suatu klip, bisa klip audio saja maupun klip audio visual. Selain dubbing, juga terdapat istilah lain yaitu voice over.

Dubbing bisa digunakan dalam pentas drama, jadi pemainnya hanya melakukan gerak-gerik tanpa perlu mengeluarkan suara. Selain itu dubbing juga digunakan untuk menambahkan naskah narasi pada video klip, dan sebagainya.


Nah, tanpa peralatan yang lengkap pun anda bisa melakukan proses dubbing sendiri dengan hasil yang bagus.
Berikut tips-tips yang perlu anda perhatikan:
1. Tingkat kebisingan
Pastikan tempat anda dubbing bebas dari suara-suara gaduh, misalnya suara motor, kipas angin atau anak-anak. Suara gaduh akan mengganggu hasil dubbing anda. Namun bila tempat anda memang bising, bisa siasati dengan menurunkan level mikrofon dan suara anda harus lebih kuat.

2. Mixer
PC memiliki mixer terintegrasi didalamnya. Yang anda butuhkan hanyalah set input mixer ke mikrofon saja, supaya suara-suara dari PC tidak ikut terekam.

3. Mikrofon
Lebih bagus dalam hal ini anda menggunakan dynamic microphone karena ruang respon mic tipe ini lebih sempit sehingga suara-suara di background bisa diminimalisir. Kalau tidak ada, maka anda bisa gunakan condenser mic yang ada di headphone.
Usahakan jarak mikrofon ke mulut sejauh 4 cm, jarak yang terlalu dekat akan menyebabkan suara kurang jelas.

4. Check noise
Sebelum memulai semuanya, anda bisa cek besar noise yang ada dengan cara merekam dan mic dalam kondisi hidup. Berikut perbandingan antara idle (input off) dan ready (input mic on) di adobe audition. Noise memang bisa direduksi saat editing, namun alangkah baik kalau anda mereduksinya sebelum memulai proses rekam.
idle: tidak ada sinyal masuk

Bisa dilihat kuat sinyal sekitar -60dB



ready: sinyal dari mikrofon
Suasana hening, kuat sinyal sekitar -30dB



Jika tidak terdengar dengung atau suara desis yang berlebihan, maka cek
noise selesai. Anda bisa lanjut ke proses berikutnya.

4. Atur kekuatan suara

Cobalah anda mengatur volume di mic sambil berbicara dengan suara keras. Usahakan rekaman suara tidak mencapai puncak atas dan bawah dari workspace.

Rekaman yang bagus adalah rekaman dengan volume yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Jadi usahakan untuk tetap normal levelnya.

Contoh rekaman yang tidak bagus. Hal ini menyebabkan suara overloud (pecah) sehingga sangat sulit diperbaiki. Jadi hindari yang seperti ini.
Perlu diingat volume rekaman yang terlalu kecil juga tidak bagus, walaupun bisa anda kuatkan (gain) sekian dB namun noisenya juga akan ikut dikuatkan.



5. Perhatikan desahan napas

Hal lain yang harus diperhatikan adalah desahan napas ketika berbicara. Hal ini kerap terjadi dalam rekaman. Jika terjadi, jangan segan-segan untuk mengulang rekam. Masalah ini bisa dihindari dengan meletakkan posisi mikrofon agak menyamping dari mulut pembicara.

Saya pikir itu saja point-point penting yang perlu anda perhatikan saat dubbing suara..

Semoga bisa memberi manfaat. Wassalam. . .. .